Minggu, 16 Desember 2012

MAKALAH
PERANAN TERNAK SEBAGAI SUMBER PANGAN HEWANI

                                                                                                                                                                                        








Disusun oleh
Nama         : Supri Mawar Jayanti
                                NIM             : 230 101 121 30223
 Jurusan       : S1 Peternakan / D 2012


FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
HALAMAN PENGESAHAN

Makalah dengan judul “ PERANAN TERNAK SEBAGAI SUMBER PANGAN HEWANI “ ini telah disahkan dan disetujui oleh dosen pembimbing.





Semarang, 24 oktober 2012
                                                                                     Pembimbing


Ir. Warsono Sarengat, M.S






KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas rahmat dan hidayah-Nya makalah dengan judul “PERANAN TERNAK SEBAGAI SUMBER PANGAN HEWANI “ dapat terselesaikan. Adapun maksud dan tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengikuti ujian tengah semester.
Makalah ini tidaklah mungkin diselesaikan seorang diri tanpa bantuan dari pihak-pihak lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu , penulis mengucapkan rasa terimakasih  kepada Ir. Warsono Sarengat, M.S , selaku dosen pembimbing mata kuliah  Pengantar Ilmu dan Industri Peternakan ,serta teman-teman kelas D 2012, dan semua pihak yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu yang telah membantu saya menyelesaikan makalah ini.
Penulis juga menyadari bahwa tulisan yang tersusun dalam makalah ini masih memiliki banyak kekurangan. Oleh karena itu, sebagai manusia, penulis membuka diri untuk menerima kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca.
Akhir kata, penulis mengucapkan terimakasih atas segala kebaikan semua pihak yang telah membantu sehingga makalah ini bisa cepat terselesaikan. Dan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Semarang, 24 Oktober 2012
                                                                           Penulis,


Supri Mawar Jayanti
NIM. 23010112130223

BABI
PENDAHULUAN
1.1.            Latar Belakang Masalah

Banyak masyarakat yang belum memahami , bahwa ternak merupakan sumber pangan hewani  yang sangat dibutuhkan sebagian atau bahkan keseluruhan masyarakat. Kualitas ternak yang sehat merupakan pilihan nomor satu masyarakat untuk menunjang kebutuhan pangan mereka menuju empat sehat lima sempurna. Sumber makan yang berasal dari ternak diantaranya, daging, telur, susu, serta bahan makanan olahan lainnya.

Jumlah penduduk dunia yang semakin bertambah, maka bertambah pula kebutuhan masyakat akan bahan makanan hewani yang bersumber utama pada peternakan. Dengan begitu, kesadaran masyarat akan pentingnya peternakan turut meningkat pula.

1.2.            Tujuan
Tujuan dari penulisan makalah ini untuk memenuhi tugas Pengantar Ilmu dan Industri Peternakan (PIIP) dan untuk syarat tiket masuk ujian tengah semester mata kuliah PIIP.








BAB II
DASAR TEORI
Sumber pangan hewani yang mengandung protein hewani berfungsi untuk kecerdasan anak terutama untuk anak “balita” atau bawah lima tahun. yang mulai populer setelah muncul persoalan tentang peranan gizi terhadap kualitas generasi penerus bangsa. Persoalan tersebut bukannya tanpa bukti. Salah satu bukti akan kebenarannya dapat dilihat dari pengamatan Monckeberg (1971) tentang hubungan antara tingkat konsumsi protein hewani pada anak-anak prasekolah dengan frekuensi kejadian defisiensi mental secara keseluruhan, sebab faktor bakat juga berperan dalam perwujudan seseorang. Informasi yang penting dari pengamatan tersebut ialah bahwa konsumsi protein hewani yang rendah pada anak-anak prasekolah dapat menyebabkan anak-anak yang berbakat normal menjadi subnormal bahkan defisien .

Selain untuk kecerdasan, protein hewani sangat dibutuhkan untuk daya tahan tubuh. Contoh yang menarik adalah hasil pengamatan Shiraki (1972) yang membuktikan peranan protein hewani dalam mencegah terjadinya anemia tau lesu darah pada orang –orang yang menggunakan otot kerja keras. Gejala anemi tersebut dikenal dengan istilah “sports anemia”, dan dapat dicegah dengan konsumsi protein yang tinggi (Pengembangan Peternakan di Indonesia: Model, Sistem, dan Perananya. Kata pengantar: vi-ix).


Dua contoh peranan protein hewani yang dipaparkan diatas, cukup untuk menggolongkan protein hewani sebagai zat gizi yang “indispensable”.

Ciri khas dari protein hewani ialah kelengkapan asam amino yang terkandung didalamnya dan tingginya nilai hayati dari protein tersebut. Jadi, makin tinggi nilai hayati dari suatu bahan pangan makin banyak pula zat N dari protein tersebut yang dapat dimanfaatkan untuk pembentukan protein tubuh. Dari ssemua bahan pangan, nilai hayati yang tertinggi dimiliki oleh telur (94-100). Hampir semua pangan yang berasal dari ternak memiliki nilai hayati 80 keatas. Oleh karena itu konsumsi protein hewani tidak perlu tinggi karena yang dikonsumsi paling tidak 80% terpakai oleh tubuh.

Rekomendasi dari Widya Karya Pangan (LIPI) mengatakan bahwa masyarakat Indonesia memerlukan rata-rata 50 gram protein/hari, 20% diantaranya bersal dari ternak dan ikan. Direkomendasikan pula protein berasal dari ternak cukup 4gram/hari, ikan 6 gram/hari sedangkan nabati 40gram/hari. Namun sampai tahun 1986 konsumsi protein berasal dari ternak baru mencapai 2,56 gram/hari. Mengapa angka 4gram/kapita/hari sulit dicapai?

Kesulitan mencapai standart kecukupan gizi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :

Ø  Mahalnya harga pangan yang berasal dari ternak diukur dari rata-rata pendapatan sebagian besar masyarakat Indonesia
Ø  Tidak meratanya tingkat ketersediaan daging, susu, dan telur di seluruh penjuru tanah air
Ø  Pengaruh kemampuan produksi dalam negeri terhadap konsumen protein hewani
Ø  Selera selektif dari masyarakat Indonesia (tidak berdasarkan agama)





BAB III
PERMASALAHAN
            Permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini diantaranya:
            3.1.      Apa sajakah bahan makanan ternak yang mengandung protein hewani?
            3.2.      Apa sajakah manfaat protein hewani?
            3.3.      Berapa besar tinggkat konsumsi protein hewani masyarakat Indonesia?
            3.4.      Apa akibat dari kekurangan protein hewani?
            3.5.      Apa saja peranan ternak sebagai sumber pangan hewani?
           





BAB IV
PEMBAHASAN
            4.1.                  Bahan Makanan Ternak yang Mengandung Protein Hewani
              Ransum ternak unggas juga menggandung bahan makanan yang bersal dari hewan yang dapat dipakai sebagai sumber protein. Kandungan asam-asam amino bahan makanan hewani lebih komplit dibandingkan dengan asam-asam amino pada bahan makanan sumber protein nabati, sehingga cukup untuk menyokong pertumbuhan ternak unggas. Beberapa bahan makanan hewani sumber protein yang biasa dipakai dalam ransum unggas antara lain :
4.1.1.     Tepung Ikan
              Tepung ikan bersal dari pengolahan ikan yang telah diambil minyaknya atau dari ikan utuh. Ikan yang biasa dijadikan sebagai tepung ikan berasal dari jenis: menhaden, sardine, herring, salmon, dan kakap. Tepung ikan merupakan sumber protein yang sangat baik bagi unggas karena mengandung asam-asam amino essentials dalam jumlah yang cukup untuk kebutuhan unggas, terutama lisin dan metionin. Kandungan protein ikan berkisar antara 58-72% (tergantung pada jenis ikan) dengan ME = 2640 – 3190 kkal/kg (NRC, 1984).
              Kandungan abu tepung ikan terutama kalsium dan fosfor (P). kandungan P ini diperkirajan tersedia bagi unggas dimanfaatkan dalam tubuh sebanyak 90%.
              Nilai nutrisi tepung ikan tergantung pada cara pengeringan, jenis ikan atau bagian tubuh dari ikan yang digunakan, dan pengaruh oksidasi terhadap tepung ikan.

4.1.2.     Tepung Daging
           Tepung daging berasal dari hasil sampingan industri daging sapi dan babi. Dari satu ton daging karkas, 300kg terbuang sebagai produk yang tidak bisa dikonsumsi oleh manusia, dan dari 300kg, 200kg nya bias diproses lebih lanjut menjadi tepung daging untuk makanan ternak. Tepung daging ini masih cukup baik sebagai sumber protein karena mengandung 50-55% protein kasar. Kandungan lisinnya cukup tinggi sedangkan metionin dan sistinnya rendah. Kandungan ME nya = 1760 – 2000 kkal/kg (Scottt et al,. 1982) dan MEn = 1920 – 2000 kkal/kg (NRC, 1984). Permasalahan utama pemberian tepung daging yaitu jika ia terkontaminasi oleh mikroba dari jenis salmonella.

                     4.1.3.      Tepung Daging dan Tulang (Meat and Bone Meal)
               Tepung daging ada pula yang bercampur dengan tulang yang dinamakan dengan meat and bone meal (tepung daging dan tulang). Tepung daging dan tulang ini kandungan mineralnya cukup tinggi. Disamping itu tepung daging dan tulangnya ini juga kaya dengan Ca dan P (8 dan 4,4% masing-masingnya). Akan tetapi, kandungan protein kasarnya lebih rendah dari pada tepung daging, yaitu berkisar antara 45-50%.

4.1.4.      Tepung Bulu Ayam
               Tepung bulu ayam telah digunakan sebagai bahan makanan ayam sejak beberapa tahun terakhir ini. Sebelum dipakai biasanya bulu ayam diproses terlebih dahulu melalui hidrolisis atau menggunakan otoklaf sehingga dapat meningkatkan daya cerna protein kasarnya sampai 80%. Kandungan protein kasar tepung bulu ayam adalah 85% dengan ME = 2310 kkal/kg (Scott et al., 1982) dan Men = 2360 kkal/kg (NRC, 1984). Menurut Leeson and summers (2001) kandungan ME tepung bulu ayam merupakan sumber asam aminosistin (4,5-5,0%) yang bias dimanfaatkan sampai 60%.
4.1.5.      Tepung Darah
               Darah hewan juga dapat dijadikan sebagai bahan  makanan pencampur ransum untuk unggas. Darah ini dikeringkan dan digiling halus, sehingga menjadi tepung darah. Tepung darah menggandung 80-82% protein kasar dan sangat baik sebagai sumber asam amino lisin ( kira-kira  dua per tiga lisin dapat dimanfaatkan unggas). Kandungan ME tepung darah = 2750 kkal/kg (Scott et al., 1982) dan MEn = 2830 – 3420 kkal/kg (NRC, 1984). Protein tepung darah kurang dapat dimanfaatkan untuk unggas karena dalam proses pembuatannya menggunakan suhu tinggi , sehingga asam amino leusin juga kurang dapat dimanfaatkan.

                     4.1.6.      Hasil Sampingan Daging Ayam (Poultry By-product Meal )
                                    Poultry by-product meal (PMB) merupakan hasil sampingan dalam memproses daging ayam yang bias berupa campuran daging, jeroan, kulit dan bulu ayam, dan ada pula yang hanya campuran daging dan jeroan ayam. PMB ini telah banyak mengandung asam-asam lemak tak jenuh dibandingkan dengan tepung daging yang bersal dari sapi.

                     4.1.7.      Kotoran Unggas
                                    Produksi kotoran unggas cukup besar sehingga bisa mencemari lingkungan , sementara kandungan zat-zat makanan yang ada didalamnya masih relatif tinggi. Untuk itu kotoran ayam ini telah banyak digunakan untuk berbagai keperluan, terutama untuk pemupukan tanaman. Kotoran unggas juga sudah biasa ditambahkan dalam campuran ransum unggas. Biasanya sebelum ditambahkan kedalam ransum  kotoran unggas ini dikeringkan terlebih dahulu.

                     4.1.8.      Tepung Limbah Udang
                                    Tepung limbah udang merupakan sisa dari pengolahan limbah udang yang terdiri atas kulit dan kepala udang. Tepung limbah udang mengandung 32% protein kasar dan mencapai 18% mineral, terutama kalsium.


4.2.                  Manfaat Protein Hewani
                 Sumber pangan hewani yang mengandung protein hewani berfungsi untuk kecerdasan anak terutama untuk anak “balita” atau bawah lima tahun. yang mulai populer setelah muncul persoalan tentang peranan gizi terhadap kualitas generasi penerus bangsa. Persoalan tersebut bukannya tanpa bukti. Salah satu bukti akan kebenarannya dapat dilihat dari pengamatan Monckeberg (1971) tentang hubungan antara tingkat konsumsi protein hewani pada anak-anak prasekolah dengan frekuensi kejadian defisiensi mental secara keseluruhan, sebab faktor bakat juga berperan dalam perwujudan seseorang. Informasi yang penting dari pengamatan tersebut ialah bahwa konsumsi protein hewani yang rendah pada anak-anak prasekolah dapat menyebabkan anak-anak yang berbakat normal menjadi subnormal bahkan defisien .

Selain untuk kecerdasan, protein hewani sangat dibutuhkan untuk daya tahan tubuh. Contoh yang menarik adalah hasil pengamatan Shiraki (1972) yang membuktikan peranan protein hewani dalam mencegah terjadinya anemia atau lesu darah pada orang –orang yang menggunakan otot untuk kerja keras. Gejala anemi tersebut dikenal dengan istilah “sports anemia”, dan dapat dicegah dengan konsumsi protein yang tinggi (Pengembangan Peternakan di Indonesia: Model, Sistem, dan Perananya. Kata pengantar: vi-ix).





4.3.                  Tingkat Konsumsi Protein Hewani Masyarakat Indonesia

                             Tingkat konsumsi protein hewani masyarat Indonesia pada umumnya masih relatif rendah dibandingkan dengan negara-negara lain. Berdasarkan analisis dari Pola Pangan Harapan (PPH), tingkat konsumsi masyarakat Indonesia akan protein asal ternak baru mencapai 5,1 g/kap/hr yang setara dengan konsumsi susu 7,5 kg/kap/th, daging 7,7 kg/kap/th, dan telur 4,7 kg/kap/th (Dirjen Bina Produksi Peternakan, 2004). Tingkat konsumsi protein hasil ternak tersebut terhitung kecil dibanding jumlah konsumsi protein (total nabati dan hewani) yang dianjurkan sebesar 46,2 g/kap/hr (Tranggono, 2004). Sebagai pembanding, konsumsi susu di Amerika, Jepang dan beberapa negara Eropa sudah lebih dari 80 kg/kap/th. Konsumsi susu beberapa negara ASEAN juga relatif tinggi, yaitu Philippina 18,8 kg/kap/th, Malaysia 22,5 kg/kap/th, Thailand 28,0kg/kap/th dan Singapura 32 kg/kap/th (Haryono, 2007).

                 Rekomendasi dari Widya Karya Pangan (LIPI) mengatakan bahwa masyarakat Indonesia memerlukan rata-rata 50 gram protein/hari, 20% diantaranya bersal dari ternak dan ikan. Direkomendasikan pula protein berasal dari ternak cukup 4gram/hari, ikan 6 gram/hari sedangkan nabati 40gram/hari. Namun sampai tahun 1986 konsumsi protein berasal dari ternak baru mencapai 2,56 gram/hari. Mengapa angka 4gram/kapita/hari sulit dicapai?

Kesulitan mencapai standart kecukupan gizi disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain :

Ø  Mahalnya harga pangan yang berasal dari ternak diukur dari rata-rata pendapatan sebagian besar masyarakat Indonesia
Ø  Tidak meratanya tingkat ketersediaan daging, susu, dan telur di seluruh penjuru tanah air
Ø  Pengaruh kemampuan produksi dalam negeri terhadap konsumen protein hewani
Ø  Selera selektif dari masyarakat Indonesia (tidak berdasarkan agama)

4.4.                  Akibat Kekurangan Protein Hewani
                                    Seperti dikutip dari Tabloid Agribisnis Dwimingguan Agrina Inspirasi Agribisnis Indonesia, menurut Black (2003), defisiensi asam folat dan vitamin B12 erat kaitannya dengan masalah kognitif pada usia anak dan lanjut usia, tetapi masih sedikit diketahui pengaruhnya pada fungsi kognitif anak-anak. Anak yang mengalami defisiensi vitamin B12 pada umumnya juga mengalami anemia gizi. Kedua masalah ini akan memperparah gangguan perkembangan atau kecerdasan anak. 
 Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kecerdasan anak, terutama aspek motorik dan kognitif, berkaitan erat dengan kecukupan zat gizi mikro terutama gizimikro seperti zat besi, iodium vitamin B6, asam folat dan vitamin B12 yang banyak terdapat dalam pangan hewani seperti dibahas sebelumnya. 
Penelitian Rogers dkk di Guatemala terhadap 553 anak sekolah usia 8 sampai 12 tahun mengungkapkan terdapat 11 % anak mempunyai plasma cobalamin yang rendah dan 22 % berada pada konsentrasi cobalamin yang marginal. Anak sekolah yang mengalami defisisensi vitamin B12 mempunyai waktu reaksi lebih rendah pada tes neuropsikososial terhadap persepsi, memori dan pertimbangan/pemikiran, menghadapi masalah prestasi akademik yang lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak mengalami defisiensi vitamin B12.
  Penelitian di Kenya menunjukkan bahwa masalah defisiensi vitamin B12 dikalangan anak sekolah dasar adalah 80.7 %, dan dengan penelitian eksperimental pemberian menu makan dengan lauk daging dan susu pada kegiatan makan bersama di sekolah dapat menurunkan masalah defisiensi vitamin ini secara nyata serta meningkatkan daya memory anak.
 Kasus yang ditemukan di Georgia tahun 2001, menunjukkan bahwa anak yang diberi ASI oleh ibu vegetarian didiagnosa mengalami defisiensi vitamin B12, menderita anemia macrocitic, dan kerusakan sistem syaraf serta keterlambatan perkembangan mental (CDC, 2003).
  Studi observasi anak-anak yang defisiensi vitamin B12 dari ibu yang hanya mengkonsumsi pangan nabati di Belanda mengalami hambatan perkembangan motorik dan bahasa dibandingkan dengan bayi dari ibu yang mengkonsumsi pangan nabati dan hewani. Pada usia 12 tahun, anak-anak dari ibu yang makan pangan nabati mempunyai tingkat ‘methilmalonic acid’ lebih tinggi dan skor lebih rendah pada penilaian kognitif (termasuk ‘Raven’s progressive matrices’, Digit Span dan Block Design) dibandingkan anak-anak dari ibu yang mengkonsumsi pangan nabati dan hewani.
Penelitian di Australia menunjukkan terdapat pengaruh positif pemberian supelemen vitamin B12, vitamin B6 dan asam folat terhadap kemampuan memori yang diukur melalui kecepatan pemerosesan, kemampuan mengingat dan mengenal serta kemampuan verbal. Penelitian Lewerin, et al (2005) pada kelompok lanjut usia di swedia, menunjukkan bahwa plasma homosistein dan serum Methyl Malonic Acid (MMA) yang tinggi berkorelasi terbalik dengan kemampuan kognitif dan motorik lansia.
 Mekanisme peran vitamin B12 tersebut dalam tubuh adalah melalui peran penting vitamin B12 dalam metabolisme asam lemak esensial untuk pemeliharaan myelin, penyediaan methyl yang diperlukan pada reaksi-rekasi sistem syaraf, dan pembentukan sel darah merah. Defisiensi vitamin B12 dalam waktu lama dapat menyebabkan kerusakan sistem syaraf yang tidak dapat diperbaiki dan akhirnya dapat menyebabkan kematian sel-sel syaraf. 
 Kolin sejenis vitamin B yang banyak dijumpai dalam pangan hewani, nyaris terabaikan dalam berbagai buku teks Ilmu Gizi sepuluh tahun yang lalu. Tetapi kini ia diakui oleh para ahli di Institute of Medicine, USA sejak tahun 2001 menetapkan kolin sebagai zat gizi esensial, artinya perlu dikonsumsi untuk hidup sehat. Defisiensi kolin mengakibatkan gangguan memori dan peningkatan sensitifitas tubuh pada zat karsiogenik. Selain itu defisiensi kolin juga dapat meningkatkan kadar kolesterol dan plasma homocysteine, yang meningkatkan risiko menderita penyakit jantung koroner. 
  Telah dibuktikan bahwa pemberian kolin dapat menurunkan kadar kolesterol dan plasma homocysteine. Kolin berperan dalam kekokohan struktur dan selaput sel, dalam melancarkan metabolisme dan pembuangan lemak dan kolesterol, serta melancarkan fungsi hati. Kolin juga bermanfaat dalam pengendalian mood, mengoptimalkan kerja sel-sel saraf dan daya ingat. 

4.5.                  Peranan Ternak sebagai Sumber Pangan Hewani
Berdasarkan Komoditi peternakan dikenal sebagai komoditi yang memiliki banyak manfaat. Produk utama ternak (daging, susu dan telur) merupakan sumber bahan pangan yang bergizi tinggi dan dikonsumsi anggota rumah tangga. Ternak berperan penting dalam program ketahanan pangan rumah tangga petani, terutama bagi petani ternak di pedesaan. Sebagian ternak juga menghasilkan tenaga yang dapat digunakan dalam mengolah lahan pertanian.
Ternak juga berperan sebagai sumber uang tunai, sebagai sumber pendapatan dan sebagai salah satu bentuk investasi (tabungan hidup) yang dapat diuangkan sewaktu dibutuhkan. Ternak juga bermanfaat dalam kegiatan keagamaan: misalnya pelaksanaan ibadah qurban tentu juga membutuhkan ternak sapi, domba ataupun kambing. Ternak lokal tersebut tidak hanya pemilikannya yang tersebar luas di tangan petani pedesaan, juga telah berperan penting dalam masa krisis ekonomi. (Nurhafid, S.Pt. disunting dari berbagai sumber)


BAB V
KESIMPULAN
                             Berdasarkan pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa protein hewani sangat penting perananya bagi kehidupan manusia diantaranya bermanfaat bagi peningkatan kecerdasan anak, selain bermanfaat sebagai sumber pangan protein hewani juga dibutuhkan untuk daya tahan tubuh. Berdasarkan pengamatan Shiraki (1972) yang membuktikan peranan protein hewani dalam mencegah terjadinya anemi, protein hewani disini diduga berperan terhadap daya tahan eritrosit sehinnga tidak mudah pecah serta berperan dalam mempercepat regenerasi eritrosit.













DAFTAR PUSTAKA
S. Hardjosworo, P. dan M.Levine, Joel.1987. Peternakan di Indonesia Model, Sistem, dan   Peranannya. Buku Obor : Jakarta.
Lesson, S. and J.D.Summers. 2001. Nutrision of the Chiken. Forth Ed. University Books, Guelph, Ontario, Canada.
NRC. 1984. Nutrient Requirement of Poultry. Eight Resived Ed. National Academy Press, Washington, Dc.
Scottt, M.L., M.C.Nesheim and R.J.Young. 1982. Nutrition of Chiken. M.L.Scott and Associates, Ithaca, New York.
Rizal, Yose. 2006. Ilmu Nutrisi Unggas. Andalas University Press. Padang.




1 komentar:

Posting Komentar

 
;